JADAL DALAM AL-QUR’AN
Disusun Guna Memenuhi TugasMata Kuliah: Ulumul Qur'an
Dosen Pengampu:
Dr. Ahsin Sakho M.Asyrofuddin
Disusun oleh :
Siti aisyah :
1113034000239
Salwa nurbaya :
1113034000141
Ridwan arifin:
1112034000188
Saripul
shaleh:1112034000159
Muhammad Lutfi : 1113034000192
JURUSAN TAFSIR HADITS
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ( UIN) SYARIF
HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014 M/1434 H
Kata Pengantar
Dengan segala rasa syukur kami
panjatkan ke hadirat ilahi robbil izzati yang maha suci, atas anugrah
nikmat-nya serta rahmat dan inayah-nya kepada kami, sholawat salam semoga
selamanya tercurahkan kepada nabi kita muhamad saw, keluarga, sahabat-nya dan
para pengikut-nya yang setia sampai akhir masa.
Alhamdulillah wa syukrillah dengan
kesabaran serta diiringi dan upaya, kami telah berhasil menyelesaikan
penyusunan makalah ini dengan tema” JADAL DALAM AL-QUR’AN”, sebagai salah satu tugas untuk
memenuhi mata kuliah ulumul qur'an, walaupun dalam bentuk sederhana.
Namun kami sadar bahwa muatan yang terkandung di dalam makalah yang kami susun
ini masih jauh dari kesempurnaan bahkan banyak kekurangan- kekurangan-nya. Oleh
karena itu, saran dan kritik dari bapak dosen sangat kami harapkan demi
penyempurnaan penyesuaian makalah di massa yang akan datang . Tapi kami tidak
berkecil hati, kepada allah kami memohon taufiq dan hidayah. Sebagai penyusun
kami berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan serta wawasan kami.
Akhir kata semoga makalah ini dapat
bermanfaat khususnya bagi kami dan umumnya bagi rekan- rekan serta pembaca
sekalian amin.
Ciputat, 5 juni 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
Cover................................................................................................................
Kata Pengantar.................................................................................................
Daftar
Isi..........................................................................................................
Bab l Pendahuluan.........................................................................................
a. Latar
Belakang.....................................................................................
b. Rumusan
Masalah.................................................................................
c. Tujuan
Makalah....................................................................................
Bab ll
Pembahasan.........................................................................................
a. Pengertian Jadal Dalam
Al-Qur’an.......................................................
b. Manfaat Mengetahui Jadal Dalam
Al-Qur’an......................................
c. Macam-Macam Jadal Dalam
Al-Qur’an...............................................
Bab lll
Penutup...............................................................................................
Kesimpulan................................................................................................................
Daftar
Pustaka..................................................................................................
BAB l
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Al Quran adalah kitab
suci bagi umat Islam, yang disampaikan Allah SWT kepada Rasulullah dengan
perantaraan malaikat Jibril. Kitab ini merupakan petunjuk dan aturan hidup yang
paling sempurna, yang diturunkan untuk memmbing manusia ke arah kebahagiaan dan
kebaikan
Kitab Suci Al-qur`an merupakan kitab Suci yang berisi kebenaran yang jelas
dan terperinci yang menjangkau segala aspek kahidupan, hal ini terlihat dengan
jelas ketika masa kejayaan Islam yang dibangun berlandaskan Al-qur`an. Namun
banyak manusia yang mengingkari keabsahannya sehingga hatinya dipenuhi
kesombongan dan menyatakan diri tidak mengimaninya.
Al-Qur`an tidak berisi kalimat-kalimat verbal yang sunyi arti, tapi lebih
merupakan untaian kalimat petunjuk dan hidayah untuk seluruh ummat manusia dan
terbukti telah menyatukan berbagaimacam keragaman, oleh sebab itu, masuk akal
jika terdapat banyak sekali proses-proses para penafsir al-Qur`an dari zaman ke
zaman dalam upaya mengungkap ma`na-ma`na dan sistem yang terkandung dalam
al-Qur`an yang merupakan Mu`jizat terbesar Akhir zaman.
Ayat-ayat dalam Kitab Al-Qur’an menggunakan
bahasa Arab dan susunan kalimat-kalimatnya mengandung nilai sastra yang sangat
sempurna. Bahasa yang digunakan dalam Al-Qur’an sedemikian menakjubkan sehingga
kita tidak akan bisa menemukan ada kitab lain yang bisa menyamai keindahannya,
apalagi melebihinya. Taha Husain, seorang sastrawan Mesir menyatakan,
“Al-Qur’an jauh lebih indah dari prosa dan syair, karena keistimewaan yang
dimilikinya tidak bisa ditemukan dalam prosa atau syair manapun. Oleh karena
itu, al-Qur’an tidak bisa disebut sebagai prosa, tidak pula bisa disebut syair.
Al-Qur’an adalah al-Qur’an, dan tidak bisa disamakan.
BAB l
PENDAHULUAN
A. Rumusan Masalah
a. Pengertian Jadal dalam Al-Qur’an
b. Manfaat Mengetahui Jadal Dalam Alquran
c. Macam-macam jadal al qur’an
BAB ll
PEMBAHASAN
A. Pengertian Jadal dalam
Al-Qur’an
Secara bahasa jadal berasal dari
kata جَدَلَ-يَجْدُلُ – [1]جُدُوْلًا yang artinya صَلُبَ وَ قَوِيَ atau dalam arti lain الحَبًّ : قَوِيَ فِى سنبله
Jadal dalam arti bahasa adalah “Kusut”,
contoh yang berarti “ tali yang kusut “ dan menurut Istilah yaitu:’
Perdebatan dalam suatu masalah dan berargumen untuk memenangkan perdebatan (
menemui kebenaran ).
Adapun secara istilah Jadal dan Jidal adalah
bertukar pikiran dengan cara bersaing dan berlomba untuk mengalahkan lawan.
Pengertian ini berasal dari kata جَدَلْتُ الحَبْل yakni
اَحْكَمْتُ فَتْلَهُ (aku kokohkan jalinan tali itu), mengingat kedua belah pihak itu
mengokohkan pendapatnya masing-masing dan berusaha menjatuhkan lawan dari
pendirian yang dipeganginya.
Definisi “Al-jadal ” dan al-jidal,
maknanya bertarung dalam bentuk beradu dan tewas menewas. asal kalimat ini
ialah ” saya menyimpul tali “ yakni……apabila saya memperkemaskan
simpulannya. “tali yang tersimpul” ialah tali yang telah dikemas kuatkan
simpulannya[2]. Dengan maksud, seolah olah mereka yang
berdebat saling memperkuatkan hujjah dan menyimpulkannya, sebagaimana beliau
menguatkankan simpulan tali, supaya dengan menguatkan hujjahnya beliau akan
dapat menewaskan lawannya.
Sedangkan dalam literatur lain disebutkan bahwa jadal atau jidal ialah
bertukar pikiran untuk mengalahkan lawan. Masing – masing orang yang berdebat
itu bermaksud merubah pendirian lawan yang semula dipegangnya.
Kata “jadal” atau “jidal” menunjuk pada pengertian perdebatan atau
diskusi, sehingga jadal berarti saling tukar pikiran atau pendapat dengan jalan
masing-masing berusaha berargumen dalam rangka untuk memenangkan pikiran atau
pendapatnya dalam suatu perebatan yang sengit. Asal kata jadal ini adalah
“jadaltu al habla” artinya aku mengokohkan pintalannya, seakan-akan kedua belah
pihak yang berdebat itu mengadakan permintalan otaknya.
Menurut Mana’ul Quthan jadal, jidal yaitu memecahkan persoalan dengan jalan
bertengkar dan saliong mencari kelemahan dalam suatu perselisihan.
Allah menyebutkan kata jadal dalm al qur’an sebanyak 29 kali yang tersebar
pada 16 surat dalam 27 ayat, yaitu pada surat:Al-nisa’:109 dan Huud:32
masing-masing dua kali; Al-baqarah:197, Al-nisa’:107, Al- an’aam:121, Al-a’raf:71,
Al-anfaal:6, Huud:74, Al-ra’d:13, Al-nahl:111,125, Al-kahfi:54,56,
Al-hajj:3,8,68. Al-ankabuut:46, Luqman:20, Ghafir:5,4,25,56,69, Al-syuraa:35,
Al-zukhruf:58, Al-mujadalah:1 masing-masing satu kali[3].
Sebagai
suatu istilah, Jadal adalah saling bertukar pikiran atau pendapat dengan jalan
masing-masing berusaha berargumen dalam rangka untuk memenangkan pikiran atau
pendapatnya dalam suatu perdebaan yang sengit. Istilah-istilah
yang dapat dipandang sebagai padanan dari kata jadal ini adalah kata “al
munazharah,al muhawarah,al munaqasyah,dan al mubahatsah” istilah-istilah ini
mengacu pada hal yang sama yaitu untuk menjelaskan suatu permasalahan. Hanya
saja jadal lebih menekankan pada kemenangan, dan pada saat yang sama kekalahan
bagi pihak lawan debat. Dengan rambu yang demikian itu, para pihak yang
terlibat dalam jadal memang tidak harus saling membenci, walaupun pada dasarnya
sulit menghidari suasana saling bermusuhan. Sebab, sebagian dari watak dasar
manusia adalah memang suka membantah atau berbantah-bantahan, bahkan Tuhannya
pun dibantah. (Q.S al Kahfi/18 : 54). Kenapa demikian? Sebab manusia memang
memiliki potensi kebebasan untuk itu, yang tidak dimiliki oleh makhluk yang
lainnya . untungnya kita punya pedoman yaitu al-Qur'an yang menganjurkan jika
hendak berbantahan maka berbantahanlah dengan cara yangterbaik.
Alqur’an adalah kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan
kepada nabi muhammad SAW dan diriwayatkan secara mutawattir serta merupakan
ibadah membacanya.
Dengan demikian jadal alqur’an adalah pembuktian-pembuktian serta
pengungkapan dalil-dalil yang terkandung di dalamnya, untuk dihadapkan pada
orang kafir dan mematahkan argumentasi para penentang denagn seluruh tujuan dan
maksud mereka, sehingga kebenaran ajaran-Nya dapat diterima dan melekat di hati
manusia.
Allah menyataakan dalam al-Qur’an bahwa Jadal atau berdebat
merupakan salah satu tabiat manusia.
وَلَقَدْ
صَرَّفْنَا فِي هَـٰذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ مِن كُلِّ مَثَلٍ ۚ وَكَانَ
الْإِنسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا
Artinya : "dan
Sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran ini
bermacam-macam perumpamaan. dan manusia adalah makhluk yang paling banyak
membantah". (Qs. Al- Kahfi: 54).
Dengan arti bahwa
sesungguhnya manusia adalah makhluk yang suka bersaing, berdebat dan selalu mempertahankan
pendapat dan fikirannya
masing-masing. Rasulallah juga sebagai pengenban amanat ilahi
diperintahkan agar berdebat
dengan kaum musyrik dengan cara yang baik yang dapat meredakan keberingasan mereka.
mereka Firman-Nya Qs.
An-Nahl 125 :
ادْعُ إِلَىٰ
سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم
بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن
سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Artinya: "serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan
pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya
Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya
dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Dalam ayat lain Allah memerintahkan agar Rasulnya tidak menuruti perdebatan
mereka, malah beliau mestilah menutup pintu perdebatan itu dengan cara yang
paling ringkas dengan mengatakan: Allah amat mengetahui apa yang kamu lakukan munazarah (berdiskusi) dengan ahli kitab dengan cara
yang baik
. Firmannya: Qs. Al- Ankabut: 46
وَلَا
تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ
ظَلَمُوا مِنْهُمْ ۖ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنزِلَ إِلَيْنَا
وَأُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَـٰهُنَا وَإِلَـٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ
مُسْلِمُونَ
Artinya: "dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan
dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara
mereka, dan Katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang
diturunkan kepada Kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan Kami dan Tuhanmu
adalah satu; dan Kami hanya kepada-Nya berserah diri".
Munazharah seperti bertujuan untuk menampakkan hak (kebenaran sejati) dan
membangun hujjah. Itulah metoda Jadal al-Qur’an dalam memberi petunjuk kepada
orang kafir dan mengalahkan para penantang al-Qur’an.
B.
Manfaat Mengetahui Jadal Dalam Alquran
Mengajarkan
kepada umat Islam bagaimana cara mendebat orang lain dengan tata aturan yang
sesuai dengan ajaran Islam.
v agar umat islam dapat membantah apa yang
dituduhkan oleh orang-orang kafir dan orang-orang musyrik dengan bantahan yang
paling baik.
v umat islam diajarkan untuk menghargai
pendapat orang lain selama orang tersebut tidak mengganggu keyakinan umat islam
dengan pendapat mereka.
v mendidik dan menanamkan ke dalam hati
manusia bahwa sungguh mulia Islam dengan cara membantah lawan bicaranya dengan
cara yang baik sehingga orang lain tertarik kepada Islam.
v Allah menyebutkan ayat-ayat kauniyah
agar dijadikan dalil bagi sendi-sendi akidah. Seperti firman Allah
dalam suratAl-baqarah:21-22.
v Menetapkan pembicaraan dengan jalan
istifham.
v Mengemukakan dalil-dalil bahwa Allah
adalah tempat kembali.
v Membatalkan tuduhan lawan dalam
bersengketa dan tetap melawannya.
v Sabru dan taqsim, yaitu mempersempit
sifat-sifat, membatalkan, dan menjadikan yang satu sebab bagi yang lain.
Sepaerti firman Allah dalam surat Al-an’am:143-144.
v Mengalahkan lawan dengan cara menjelaskan
bahwa tuduhan yang diajukannya itu tidak seorangpun yang mengetahuinya.
v Untuk menangkis dan melemahkan
argumentasi-argumenrasi orang kafir.
v Jawaban Allah tentang pembenaran akidah
dan persoalan yang dihadapi rasul.
v Layanan dialog bagi orang yang benar-benar
ingin tahu,kemudian hasilnya itu dijadikan pegangan dan semacamnya, seperti
jawaban Allah atas kegelisahan Nabi Ibrahim.
v Sebagai bukti dan dalil yang dapat
mematahkan dakwaan dan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kalangan umat
manusia,seperti dialog Nabi Musa dengan Fir’aun(QS. Al-syu’raa:10-51)[4]
C. Macam-macam Jadal Al Qur’an
a. Secara umum, jadal al
qur’an dapat dikelompokkan dalam dua kategori:
b. Jadal yang terpuji (al
jadal al mamduh)
c. Jadal ini adalah suatu
debat yang dilandasi niat yang ikhlas dan murni dengan cara-cara yang damai
untuk mencari dan menemukan kebenaran.
d. Jadal yang tercela (al
jadal al madzmum)
e. Jadal ini adalah setiap
debat yang menonjolkan kebathilan atau dukungan atas kebathilan itu.
f. Jadal al madzmum ini ada
yang dilakukan dalam bentuk debat tanpa landasan keilmuan.
g. Maudhu’ jadal dalam al
qur’an
h. Al maa’iy
mengkategorikannya kedalam enam kelompok:
a) Jadal dalam penetapan
wujud Allah
b) Jadal tentang penetapan
keesaan Allah
c) Jadal tentang penetapan
risalah
d) Jadal tentang kebangkitan dan pembalasan
e) Jadal tentang tasyri’at
f) Jadal tentang tema lain.
i. Seperti jadal musa dan
khidir, jadal antara orang sabar yang miskin dan orang kafir yang kaya, dsb.
1. Dalam Al-qur’an banyak mengungkapkan ayat-ayat
kauniyah yang disertai perintah melakukan perenungan dan pemikiran untuk
dijadikan dalil bagi penetapan dasar-dasar akidah,seperti ketauhidan
Allah dan uluhiyah-nya dan keimanan kepada
malaikat-malaikat,kitab-kitab,rasul-rasul-nya dan hari kemudian.
(٢١)تَتَّقُونَ لَعَلَّكُمْ
قَبْلِكُمْوَمِنْ الَّذِينَخَلَقَكُمْ الَّذِيرَبَّكُمُ اعْبُدُوا النَّاسُ
أَيُّهَا يَا
”Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang
yang sebelummu, agar kamu bertakwa,’’(:Q.S. Al-Baqarah 21).
(٢٢)تَعْلَمُونَ وَأَنْتُمْ أَنْدَادًا
لِلَّهِ تَجْعَلُوا لَكُمْ فَلا رِزْقًا الثَّمَرَاتِ مِنَ بِهِ فَأَخْرَجَ مَاءً
لسَّمَاءِ مِنَ اوَأَنْزَلَ بِنَاءً وَالسَّمَاءَ فِرَاشًا لأرْضَ ا لَكُمُ جَعَلَ
الَّذِي
“Dia lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai
atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan
hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu, karena itu janganlah kamu
mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”(Q.S.Al-Baqarah:22).
2. Membantah pendapat para penentang dan lawan, serta
mematahkan argumentasi mereka.
Perdebatan
macam ini mempunyai beberapa bentuk:
a.
memajukan pertanyaan tentang hal-hal yang telah diakui dan terima baik oleh
akal, agar ia mengakui apa yang tadinya diingkari, seperti penggunaan dalil
dengan makhluk untuk menetapkan adanya khaliq. misalnya:
“Apakah
mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan(diri mereka
sendiri)?35.ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?;sebenernya
mereka tidak menyakini (apa yang mereka katakan).36.Ataukah disisi mereka ada
perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa? 37.Ataukah mereka
mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang
ghaib)?maka hendaklah orang yang mendengarkan diantara mereka mendatangkan
suatu keterangan yang nyata.38.Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan
untuk kamu anak-anak laki-laki? 39.Ataukah kamu meminta upah kepada mereka
sehingga mereka dibebani dengan hutang?40.Apakah ada pada sisi mereka
pengetahuan tentang yang gaib lalu mereka menuliskannya?41.Ataukah mereka
hendak melakukan tipu daya?Maka orang-orang yang kafir itu merekalah yang kena
tipu daya 42.Ataukah mereka mempunyai Tuhan selain Allah. Maha suci Allah dari
apa yang mereka persekutukan. 43.
Ayat ini menegaskan, Allah tidak mempunyai anak, karena proses kelahiran anak
tidak mungkin terjadi dari sesuatu tunggal. Ada kelahiran itu adalah hasil dari
proses dua pribadi. Padahal Allah tidak mempunyai istri disamping itu dia
menciptakan segala sesuatu dan penciptaannya terhadap segala sesuatu ini
sungguh kontradiktif bila dinyatakan bahwa dia melahirkan sesuatu. Dia maha
mengetahui segala sesuatu, dan pengetahuannya ini membawa onklusi pasti bahwa dia
berbuat dasar kehendaknya sendiri,perasaan pun dapat membedakan antara yang
berbuat menurut kehendak sendiri dengan yang berbuat karena hukum alam. Dengan
kemahatahuannya akan segala sesuatu itu, maka mustahil jika dia sama dengan
benda-benda atau mahluk alam yang melahirkan sesuatu tanpa disadari, seperti
panas dan dingin. Dengan demikian maka tidak benar menisbahkan anak kepadanya.
Masih banyak lagi macam-macam jadal dalam Al-qur’an, misalnya perdebatan para
nabi dengan umatnya, perdebatan para nabi dengan umatnya, perdebatan orang
mukmin dengan orang munafik dan lain sebagainya.[5] Menurut Imam
Syuyuti, untuk menyelamatkan dari perselisihan tidak harus memakai
kata-kata pertanyaan saja namun bisa dengan manfu ( kata peniadaan ), atau
syarat denga huruf-huruf Imtina (larangan).
D. URGENSI JADAL DALAM
AI-QUR’AN
Setelah menjelaskan bagaimana
Al-Qur'an memberikan aturan-aturan dalam perdebatan yang dibolehkan, perlu kita
ketahui urgensi dari Jadal dalam al-Qur'an. Mengapa Al-Qur'an itu mernbanlah
argumenl-argumen orang-orang kafir dan musyrik?, diantara urgensinya adalah:
- Dikarenakan Al Qur’an turun
ditengah tengah bangsa Arab dan menggunakan bahasa mereka maka Al-Qur'an
berargumen sebagaimana argumen-argumen mereka sehingga mereka jelas atas
persoalan-persoalan yang dibicarakan. Allah SWT berfirman dalam Surat
Ibrohim ayat 4:
Artinya: "Kami tidak mengutus seorang Rasulpun,
kecuali dengan bahasa kaumnya supaya ia dapat memberikan penjelasan dengan
terang kepada mereka."
- Fitroh manusia yang suci akan
selalu menerima hal- hal yang pasti dan rasional sebagaimana yang mereka
lihat dan mereka rasakan dan bukan angan-angan yang tiada batas.
- Menghindari dari kata kata yang
rumit dan membutuhkan rincian merupakan hal yang dianjurkan dan diinginkan
semua orang. Kata-kata yang membutuhkan penjelasan panjang lebar merupakan
sebuah kerumitan yang sulit dipahami oleh orang-orang umum, maka apabila seseorang
mampu menggunakan argumen yang tepat dan tidak rumit akan menang dalam
berargumen. Begitulah Allah SWT memberikan bantahan- bantahan yang jelas
dan mudah diterima oleh siapapun.
KESIMPULAN
Secara bahasa jadal berasal
dari kata جَدَلَ-يَجْدُلُ –جُدُوْلًا yang artinya صَلُبَ وَ قَوِيَ
atau dalam arti lain الحَبًّ : قَوِيَ فِى سنبله
Jadal dalam arti bahasa adalah “Kusut”, contoh yang berarti “ tali yang
kusut “ dan menurut Istilah yaitu:’ Perdebatan dalam suatu masalah dan
berargumen untuk memenangkan perdebatan ( menemui kebenaran ).
Salah satu manfaat mengetahui jadal dalam Al-qur’an ialah agar umat islam dapat membantah apa yang dituduhkan oleh orang-orang kafir
dan orang-orang musyrik dengan bantahan yang paling baik. Dalam Al-qur’an banyak mengungkapkan ayat-ayat
kauniyah yang disertai perintah melakukan perenungan dan pemikiran untuk
dijadikan dalil bagi penetapan dasar-dasar akidah,seperti ketauhidan
Allah dan uluhiyah-nya dan keimanan kepada malaikat-malaikat,kitab-kitab,rasul-rasul-nya
dan hari kemudian.Membantah pendapat para penentang dan lawan, serta mematahkan
argumentasi mereka.
DAFTAR PUSTAKA
-Al-Munjid Fii Lughati wa Al-A’laam. Hal 82
Al-Raghib al-Isfahani, Mu'jam Mufradit al-Fadz
al-Qur'an, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), h' 87; Juga Ibnu Manzhur, Lisan
al-'Arab, Jilid XI dari XV Jilid (Beirut: Dar Shadir, t.th.) h.105
As-Syuyuti,
Jalaluddin Al-Itqon Fii Uluml al-Qur'an, Dar al-fikr Beirut, 1979
M. h.266.
Manna' Khalil al-Qaththan, Mabahitsfi UIum
al-Qur'an (Beirut: Mansyurat al-Ashr, 1977) hal.299
Manna’ Khalil al-Qattan(trjmah; Drs, Mudzakir AS), Studi
Ilmu-ilmu a-Qur’an, Litera Antar Nusa, Halim Jaya, Jakarta, 2002. hal 426
Zahir 'Awad
al-Alamaiy Manahij al-Jadal fi al-qur'an al-Karim, (t.tp.,t.th.),
h. 20; Juga Manna' Khalil al-Qaththln, Mabahits fi ulum al-Qur'an (Beirut
Mansyurat al-Ashr, t977)h.29

No comments:
Post a Comment