HOME

Pages

Wednesday, October 17, 2018

JADAL DALAM AL-QUR'AN


   JADAL DALAM AL-QUR’AN
Disusun Guna Memenuhi TugasMata Kuliah: Ulumul Qur'an

Dosen Pengampu:
Dr. Ahsin Sakho M.Asyrofuddin



Disusun oleh :
Siti aisyah : 1113034000239
Salwa nurbaya : 1113034000141
Ridwan arifin: 1112034000188
Saripul shaleh:1112034000159  
Muhammad Lutfi : 1113034000192








JURUSAN TAFSIR HADITS
FAKULTAS USHULUDDIN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ( UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014 M/1434 H

Kata Pengantar

Dengan segala rasa syukur kami panjatkan ke hadirat ilahi robbil izzati yang maha suci, atas anugrah nikmat-nya serta rahmat dan inayah-nya kepada kami, sholawat salam semoga selamanya tercurahkan kepada nabi kita muhamad saw, keluarga, sahabat-nya dan para pengikut-nya yang setia sampai akhir masa.
Alhamdulillah wa syukrillah dengan kesabaran serta diiringi dan upaya, kami telah berhasil menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan temaJADAL DALAM AL-QUR’AN, sebagai salah satu tugas untuk memenuhi mata kuliah ulumul qur'an, walaupun dalam bentuk sederhana. Namun kami sadar bahwa muatan yang terkandung di dalam makalah yang kami susun ini masih jauh dari kesempurnaan bahkan banyak kekurangan- kekurangan-nya. Oleh karena itu, saran dan kritik dari bapak dosen sangat kami harapkan demi penyempurnaan penyesuaian makalah di massa yang akan datang . Tapi kami tidak berkecil hati, kepada allah kami memohon taufiq dan hidayah. Sebagai penyusun kami berharap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan serta wawasan kami.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami dan umumnya bagi rekan- rekan serta pembaca sekalian amin.


Ciputat, 5 juni 2014

Penyusun















DAFTAR ISI
Cover................................................................................................................
Kata Pengantar.................................................................................................
Daftar Isi..........................................................................................................
Bab l Pendahuluan.........................................................................................
a.       Latar Belakang.....................................................................................
b.      Rumusan Masalah.................................................................................
c.       Tujuan Makalah....................................................................................
Bab ll Pembahasan.........................................................................................
a.       Pengertian Jadal Dalam Al-Qur’an.......................................................
b.      Manfaat Mengetahui Jadal Dalam Al-Qur’an......................................
c.       Macam-Macam Jadal Dalam Al-Qur’an...............................................
Bab lll Penutup...............................................................................................
Kesimpulan................................................................................................................
Daftar Pustaka..................................................................................................



































BAB l
 PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

    Al Quran adalah kitab suci bagi umat Islam, yang  disampaikan Allah SWT kepada Rasulullah dengan perantaraan malaikat Jibril. Kitab ini merupakan petunjuk dan aturan hidup yang paling sempurna, yang diturunkan untuk memmbing manusia ke arah kebahagiaan dan kebaikan
Kitab Suci Al-qur`an merupakan kitab Suci yang berisi kebenaran yang jelas dan terperinci yang menjangkau segala aspek kahidupan, hal ini terlihat dengan jelas ketika masa kejayaan Islam yang dibangun berlandaskan Al-qur`an. Namun banyak manusia yang mengingkari keabsahannya sehingga hatinya dipenuhi kesombongan dan menyatakan diri tidak mengimaninya.
Al-Qur`an tidak berisi kalimat-kalimat verbal yang sunyi arti, tapi lebih merupakan untaian kalimat petunjuk dan hidayah untuk seluruh ummat manusia dan terbukti telah menyatukan berbagaimacam keragaman, oleh sebab itu, masuk akal jika terdapat banyak sekali proses-proses para penafsir al-Qur`an dari zaman ke zaman dalam upaya mengungkap ma`na-ma`na dan sistem yang terkandung dalam al-Qur`an yang merupakan Mu`jizat terbesar Akhir zaman.
Ayat-ayat dalam Kitab Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab dan susunan kalimat-kalimatnya mengandung nilai sastra yang sangat sempurna. Bahasa yang digunakan dalam Al-Qur’an sedemikian menakjubkan sehingga kita tidak akan bisa menemukan ada kitab lain yang bisa menyamai keindahannya, apalagi melebihinya. Taha Husain, seorang sastrawan Mesir menyatakan, “Al-Qur’an jauh lebih indah dari prosa dan syair, karena keistimewaan yang dimilikinya tidak bisa ditemukan dalam prosa atau syair manapun. Oleh karena itu, al-Qur’an tidak bisa disebut sebagai prosa, tidak pula bisa disebut syair. Al-Qur’an adalah al-Qur’an, dan tidak bisa disamakan.







BAB l
PENDAHULUAN

A.    Rumusan Masalah

a.       Pengertian Jadal dalam Al-Qur’an
b.      Manfaat Mengetahui Jadal Dalam Alquran
c.       Macam-macam jadal al qur’an


BAB ll
PEMBAHASAN
A.        Pengertian Jadal dalam Al-Qur’an                                                               
Secara bahasa jadal berasal dari kata جَدَلَ-يَجْدُلُ [1]جُدُوْلًا yang artinya صَلُبَ وَ قَوِيَ  atau dalam arti lain الحَبًّ : قَوِيَ فِى سنبله
Jadal dalam arti bahasa adalah “Kusut”, contoh yang berarti “ tali yang kusut “  dan menurut Istilah yaitu:’ Perdebatan dalam suatu masalah dan berargumen untuk memenangkan perdebatan ( menemui kebenaran ).
Adapun secara istilah Jadal dan Jidal adalah bertukar pikiran dengan cara bersaing dan berlomba untuk mengalahkan lawan. Pengertian ini berasal dari kata جَدَلْتُ الحَبْل yakni اَحْكَمْتُ فَتْلَهُ (aku kokohkan jalinan tali itu), mengingat kedua belah pihak itu mengokohkan pendapatnya masing-masing dan berusaha menjatuhkan lawan dari pendirian yang dipeganginya.
Definisi “Al-jadal ” dan al-jidal, maknanya bertarung dalam bentuk beradu dan tewas menewas. asal kalimat ini ialah ” saya menyimpul tali “  yakni……apabila saya memperkemaskan simpulannya. “tali yang tersimpul” ialah tali yang telah dikemas kuatkan simpulannya[2]. Dengan maksud, seolah olah mereka yang berdebat saling memperkuatkan hujjah dan menyimpulkannya, sebagaimana beliau menguatkankan simpulan tali, supaya dengan menguatkan hujjahnya beliau akan dapat menewaskan  lawannya.
Sedangkan dalam literatur lain disebutkan bahwa jadal atau jidal ialah bertukar pikiran untuk mengalahkan lawan. Masing – masing orang yang berdebat itu bermaksud merubah pendirian lawan yang semula dipegangnya.
 Kata “jadal” atau “jidal” menunjuk pada pengertian perdebatan atau diskusi, sehingga jadal berarti saling tukar pikiran atau pendapat dengan jalan masing-masing berusaha berargumen dalam rangka untuk memenangkan pikiran atau pendapatnya dalam suatu perebatan yang sengit. Asal kata jadal ini adalah “jadaltu al habla” artinya aku mengokohkan pintalannya, seakan-akan kedua belah pihak yang berdebat itu mengadakan permintalan otaknya.
Menurut Mana’ul Quthan jadal, jidal yaitu memecahkan persoalan dengan jalan bertengkar dan saliong mencari kelemahan dalam suatu perselisihan.
Allah menyebutkan kata jadal dalm al qur’an sebanyak 29 kali yang tersebar pada 16 surat dalam 27 ayat, yaitu pada surat:Al-nisa’:109 dan Huud:32 masing-masing dua kali; Al-baqarah:197, Al-nisa’:107, Al- an’aam:121, Al-a’raf:71, Al-anfaal:6, Huud:74, Al-ra’d:13, Al-nahl:111,125, Al-kahfi:54,56, Al-hajj:3,8,68. Al-ankabuut:46, Luqman:20, Ghafir:5,4,25,56,69, Al-syuraa:35, Al-zukhruf:58, Al-mujadalah:1 masing-masing satu kali[3].
Sebagai suatu istilah, Jadal adalah saling bertukar pikiran atau pendapat dengan jalan masing-masing berusaha berargumen dalam rangka untuk memenangkan pikiran atau pendapatnya dalam suatu perdebaan yang sengit. Istilah-istilah yang dapat dipandang sebagai padanan dari kata jadal ini adalah kata “al munazharah,al muhawarah,al munaqasyah,dan al mubahatsah” istilah-istilah ini mengacu pada hal yang sama yaitu untuk menjelaskan suatu permasalahan. Hanya saja jadal lebih menekankan pada kemenangan, dan pada saat yang sama kekalahan bagi pihak lawan debat. Dengan rambu yang demikian itu, para pihak yang terlibat dalam jadal memang tidak harus saling membenci, walaupun pada dasarnya sulit menghidari suasana saling bermusuhan. Sebab, sebagian dari watak dasar manusia adalah memang suka membantah atau berbantah-bantahan, bahkan Tuhannya pun dibantah. (Q.S al Kahfi/18 : 54). Kenapa demikian? Sebab manusia memang memiliki potensi kebebasan untuk itu, yang tidak dimiliki oleh makhluk yang lainnya . untungnya kita punya pedoman yaitu al-Qur'an yang menganjurkan jika hendak berbantahan maka berbantahanlah dengan cara yangterbaik.
Alqur’an adalah kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada nabi muhammad SAW dan diriwayatkan secara mutawattir serta merupakan ibadah membacanya.
Dengan demikian jadal alqur’an adalah pembuktian-pembuktian serta pengungkapan dalil-dalil yang terkandung di dalamnya, untuk dihadapkan pada orang kafir dan mematahkan argumentasi para penentang denagn seluruh tujuan dan maksud mereka, sehingga kebenaran ajaran-Nya dapat diterima dan melekat di hati manusia.
Allah menyataakan dalam al-Qur’an bahwa Jadal atau berdebat merupakan salah satu tabiat manusia.
وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَـٰذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ مِن كُلِّ مَثَلٍ ۚ وَكَانَ الْإِنسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا
Artinya : "dan Sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran ini bermacam-macam perumpamaan. dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah". (Qs. Al- Kahfi: 54).
            Dengan arti bahwa sesungguhnya manusia adalah makhluk yang suka bersaing, berdebat dan selalu mempertahankan pendapat dan fikirannya masing-masing. Rasulallah juga sebagai pengenban amanat ilahi diperintahkan agar berdebat dengan kaum musyrik dengan cara yang baik yang dapat meredakan keberingasan mereka.
mereka Firman-Nya Qs. An-Nahl 125 :
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Artinya: "serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Dalam ayat lain Allah memerintahkan agar Rasulnya tidak menuruti perdebatan mereka, malah beliau mestilah menutup pintu perdebatan itu dengan cara yang paling ringkas dengan mengatakan: Allah amat mengetahui apa yang kamu lakukan munazarah (berdiskusi) dengan ahli kitab dengan cara yang baik
. Firmannya: Qs. Al- Ankabut: 46
وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ ۖ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنزِلَ إِلَيْنَا وَأُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَـٰهُنَا وَإِلَـٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Artinya: "dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan Katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada Kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan Kami dan Tuhanmu adalah satu; dan Kami hanya kepada-Nya berserah diri".

Munazharah seperti bertujuan untuk menampakkan hak (kebenaran sejati) dan membangun hujjah. Itulah metoda Jadal al-Qur’an dalam memberi petunjuk kepada orang kafir dan mengalahkan para penantang al-Qur’an.


B.     Manfaat Mengetahui Jadal Dalam Alquran

Mengajarkan kepada umat Islam bagaimana cara mendebat orang lain dengan tata aturan yang sesuai dengan ajaran Islam.
v agar umat islam dapat membantah apa yang dituduhkan oleh orang-orang kafir dan orang-orang musyrik dengan bantahan yang paling baik.
v umat islam diajarkan untuk menghargai pendapat orang lain selama orang tersebut tidak mengganggu keyakinan umat islam dengan pendapat mereka.
v mendidik dan menanamkan ke dalam hati manusia bahwa sungguh mulia Islam dengan cara membantah lawan bicaranya dengan cara yang baik sehingga orang lain tertarik kepada Islam.
v  Allah menyebutkan ayat-ayat kauniyah agar dijadikan dalil bagi sendi-sendi akidah. Seperti firman Allah dalam suratAl-baqarah:21-22.
v Menetapkan pembicaraan dengan jalan istifham.
v Mengemukakan dalil-dalil bahwa Allah adalah tempat kembali.
v Membatalkan tuduhan lawan dalam bersengketa dan tetap melawannya.
v Sabru dan taqsim, yaitu mempersempit sifat-sifat, membatalkan, dan menjadikan yang satu sebab bagi yang lain. Sepaerti firman Allah dalam surat Al-an’am:143-144.
v Mengalahkan lawan dengan cara menjelaskan bahwa tuduhan yang diajukannya itu tidak seorangpun yang mengetahuinya.
v Untuk menangkis dan melemahkan argumentasi-argumenrasi orang kafir.
v Jawaban Allah tentang pembenaran akidah dan persoalan yang dihadapi rasul.
v Layanan dialog bagi orang yang benar-benar ingin tahu,kemudian hasilnya itu dijadikan pegangan dan semacamnya, seperti jawaban Allah atas kegelisahan Nabi Ibrahim.
v Sebagai bukti dan dalil yang dapat mematahkan dakwaan dan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kalangan umat manusia,seperti dialog Nabi Musa dengan Fir’aun(QS. Al-syu’raa:10-51)[4]

C.            Macam-macam Jadal Al Qur’an

a.       Secara umum, jadal al qur’an dapat dikelompokkan dalam dua kategori:
b.      Jadal yang terpuji (al jadal al mamduh)
c.       Jadal ini adalah suatu debat yang dilandasi niat yang ikhlas dan murni dengan cara-cara yang damai untuk mencari dan menemukan kebenaran.
d.      Jadal yang tercela (al jadal al madzmum)
e.       Jadal ini adalah setiap debat yang menonjolkan kebathilan atau dukungan atas kebathilan itu.
f.       Jadal al madzmum ini ada yang dilakukan dalam bentuk debat tanpa landasan keilmuan.
g.      Maudhu’ jadal dalam al qur’an
h.      Al maa’iy mengkategorikannya kedalam enam kelompok:
a)      Jadal dalam penetapan wujud Allah
b)      Jadal tentang penetapan keesaan Allah
c)      Jadal tentang penetapan risalah
d)     Jadal tentang kebangkitan dan pembalasan
e)      Jadal tentang tasyri’at
f)       Jadal tentang tema lain.
i.        Seperti jadal musa dan khidir, jadal antara orang sabar yang miskin dan orang kafir yang kaya, dsb.

1.      Dalam Al-qur’an banyak mengungkapkan ayat-ayat kauniyah yang disertai perintah melakukan perenungan dan pemikiran untuk dijadikan dalil bagi penetapan dasar-dasar  akidah,seperti ketauhidan Allah dan uluhiyah-nya dan keimanan kepada malaikat-malaikat,kitab-kitab,rasul-rasul-nya dan hari kemudian.
(٢١)تَتَّقُونَ لَعَلَّكُمْ قَبْلِكُمْوَمِنْ الَّذِينَخَلَقَكُمْ الَّذِيرَبَّكُمُ اعْبُدُوا النَّاسُ أَيُّهَا يَا
          ”Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,’’(:Q.S. Al-Baqarah 21).
 (٢٢)تَعْلَمُونَ وَأَنْتُمْ أَنْدَادًا لِلَّهِ تَجْعَلُوا لَكُمْ فَلا رِزْقًا الثَّمَرَاتِ مِنَ بِهِ فَأَخْرَجَ مَاءً لسَّمَاءِ مِنَ اوَأَنْزَلَ بِنَاءً وَالسَّمَاءَ فِرَاشًا لأرْضَ ا لَكُمُ جَعَلَ الَّذِي
          “Dia lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”(Q.S.Al-Baqarah:22).
2.      Membantah pendapat para penentang dan lawan, serta mematahkan argumentasi mereka.
Perdebatan macam ini mempunyai beberapa bentuk:
a. memajukan pertanyaan tentang hal-hal yang telah diakui dan terima baik oleh akal, agar ia mengakui apa yang tadinya diingkari, seperti penggunaan dalil dengan makhluk untuk menetapkan adanya khaliq. misalnya:
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan(diri mereka sendiri)?35.ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?;sebenernya mereka tidak menyakini (apa yang mereka katakan).36.Ataukah disisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa? 37.Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang ghaib)?maka hendaklah orang yang mendengarkan diantara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata.38.Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki? 39.Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang?40.Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang gaib lalu mereka menuliskannya?41.Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya?Maka orang-orang yang kafir itu merekalah yang kena tipu daya 42.Ataukah mereka mempunyai Tuhan selain Allah. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. 43.  
         Ayat ini menegaskan, Allah tidak mempunyai anak, karena proses kelahiran anak tidak mungkin terjadi dari sesuatu tunggal. Ada kelahiran itu adalah hasil dari proses dua pribadi. Padahal Allah tidak mempunyai istri disamping itu dia menciptakan segala sesuatu dan penciptaannya terhadap segala sesuatu ini sungguh kontradiktif bila dinyatakan bahwa dia melahirkan sesuatu. Dia maha mengetahui segala sesuatu, dan pengetahuannya ini membawa onklusi pasti bahwa dia berbuat dasar kehendaknya sendiri,perasaan pun dapat membedakan antara yang berbuat menurut kehendak sendiri dengan yang berbuat karena hukum alam. Dengan kemahatahuannya akan segala sesuatu itu, maka mustahil jika dia sama dengan benda-benda atau mahluk alam yang melahirkan sesuatu tanpa disadari, seperti panas dan dingin. Dengan demikian maka tidak benar menisbahkan anak kepadanya.
          Masih banyak lagi macam-macam jadal dalam Al-qur’an, misalnya perdebatan para nabi dengan umatnya, perdebatan para nabi dengan umatnya, perdebatan orang mukmin dengan orang munafik dan lain sebagainya.[5]  Menurut Imam Syuyuti, untuk menyelamatkan dari perselisihan tidak harus memakai kata-kata pertanyaan saja namun bisa dengan manfu ( kata peniadaan ), atau syarat denga huruf-huruf Imtina (larangan).

     D. URGENSI JADAL DALAM AI-QUR’AN
Setelah menjelaskan bagaimana Al-Qur'an memberikan aturan-aturan dalam perdebatan yang dibolehkan, perlu kita ketahui urgensi dari Jadal dalam al-Qur'an. Mengapa Al-Qur'an itu mernbanlah argumenl-argumen orang-orang kafir dan musyrik?, diantara urgensinya adalah:
  • Dikarenakan Al Qur’an turun ditengah tengah bangsa Arab dan menggunakan bahasa mereka maka Al-Qur'an berargumen sebagaimana argumen-argumen mereka sehingga mereka jelas atas persoalan-persoalan yang dibicarakan. Allah SWT berfirman dalam Surat Ibrohim ayat 4:
Artinya: "Kami tidak mengutus seorang Rasulpun, kecuali dengan bahasa kaumnya supaya ia dapat memberikan penjelasan dengan terang kepada mereka."
  • Fitroh manusia yang suci akan selalu menerima hal- hal yang pasti dan rasional sebagaimana yang mereka lihat dan mereka rasakan dan bukan angan-angan yang tiada batas.
  • Menghindari dari kata kata yang rumit dan membutuhkan rincian merupakan hal yang dianjurkan dan diinginkan semua orang. Kata-kata yang membutuhkan penjelasan panjang lebar merupakan sebuah kerumitan yang sulit dipahami oleh orang-orang umum, maka apabila seseorang mampu menggunakan argumen yang tepat dan tidak rumit akan menang dalam berargumen. Begitulah Allah SWT memberikan bantahan- bantahan yang jelas dan mudah diterima oleh siapapun.
















KESIMPULAN

Secara bahasa jadal berasal dari kata جَدَلَ-يَجْدُلُ جُدُوْلًا yang artinya صَلُبَ وَ قَوِيَ  atau dalam arti lain الحَبًّ : قَوِيَ فِى سنبله
Jadal dalam arti bahasa adalah “Kusut”, contoh yang berarti “ tali yang kusut “  dan menurut Istilah yaitu:’ Perdebatan dalam suatu masalah dan berargumen untuk memenangkan perdebatan ( menemui kebenaran ).
          Salah satu manfaat mengetahui jadal dalam Al-qur’an ialah agar umat islam dapat membantah apa yang dituduhkan oleh orang-orang kafir dan orang-orang musyrik dengan bantahan yang paling baik. Dalam Al-qur’an banyak mengungkapkan ayat-ayat kauniyah yang disertai perintah melakukan perenungan dan pemikiran untuk dijadikan dalil bagi penetapan dasar-dasar  akidah,seperti ketauhidan Allah dan uluhiyah-nya dan keimanan kepada malaikat-malaikat,kitab-kitab,rasul-rasul-nya dan hari kemudian.Membantah pendapat para penentang dan lawan, serta mematahkan argumentasi mereka.




















DAFTAR PUSTAKA
-Al-Munjid Fii Lughati wa Al-A’laam. Hal 82
Al-Raghib al-Isfahani, Mu'jam Mufradit al-Fadz al-Qur'an, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), h' 87; Juga Ibnu Manzhur, Lisan al-'Arab, Jilid XI dari XV Jilid (Beirut: Dar Shadir, t.th.) h.105
As-Syuyuti, Jalaluddin Al-Itqon Fii Uluml al-Qur'an, Dar al-fikr Beirut, 1979  M. h.266.
Manna' Khalil al-Qaththan, Mabahitsfi UIum al-Qur'an (Beirut: Mansyurat al-Ashr, 1977) hal.299
Manna’ Khalil al-Qattan(trjmah; Drs, Mudzakir AS), Studi Ilmu-ilmu a-Qur’an, Litera Antar Nusa, Halim Jaya, Jakarta, 2002. hal 426
Zahir 'Awad al-Alamaiy Manahij al-Jadal fi al-qur'an al-Karim, (t.tp.,t.th.), h. 20; Juga Manna' Khalil al-Qaththln, Mabahits fi ulum al-Qur'an (Beirut Mansyurat al-Ashr, t977)h.29
                                                               
1Prof.Dr.H.Mahmud Yunus,Kamus Arab-Indonesia(Jakarta,PT Mahmud Yunus Wa Dzurriyyah) 1989
[2] 2 Prof.Dr.H. Muhammad Amin Suma,Ulumul Qur'an(Jakarta,PT Raja Grafindo Persada) 2013
 3Prof.Dr.H. Abdul Djalal,Ulumul Qur'an(Surabaya,Dunia Ilmu) 1998
 4Qathan, Manna’ Khalil. Terj Mabahits Fii Ulumil Qur’an. Jakarta: Pustaka al- Kautsar. 2006
 5syaikh manna al-qaththan, pengantar study ilmu al-qur’an, pustaka al-kautsar 2006,hal.381